Sastra

Dilema Merah Jambu

–Account Detail— –Pulsa Utama: Rp. 14 –Bonus Umum : Rp. 0 Timbul rasa kekesalan di benak Melka. Tangganya mengipas-ngipas handphone sambil menggerutu. Apa ini takdirku, tuhan? Aku kangen sama dia. *** Semenjak hubungan yang erat dengan Noy, aku merasa tak selayaknya seorang wanita selalu membuntuti aktifitas dia. Ya..meski hanya lewat sms tidak penting seperti ini. “ Pagi Noy, Lagi ngapa?” send to Noy Cayng, ok! Apa perlu aku menangguhkan hasrat jemariku untuk mengetik kata-kata murahan itu. Semuanya terlanjur sudah. Noy sudah merespon apa mauku. Pukul 06.30 Handphoneku berdering sekeras mungkin, mulai sayup-sayup hingga nyaris merusak pendengaranku. Aku tergugah. Ku tekan tombol biru. Dari kejauhan terdengar suara yang lazim aku dengar.. “mel, bangun..” Noy!!!!,aku terperanggah hingga tenggorokan terkunci rapat-rapat. “mel..halo..halo…” Tak lama kemudian ku sahut dengan suara sangat lirih. “iya Noy, met pagi juga, lagi ngapa?” “ nggak lagi ngapa-ngapain mel, aku barusan mimpi” “Mimpi apa?” “entar deh aku ceritain, oya udah dulu ya..mau belajar dulu” Dengan suara kekesalan ku sudahi percakapan pagi itu. Mengapa kak Noy selalu tak bisa mengerti kemauanku yang sesungguhnya. Ih jadi sebel.. “Udah dulu ya mau belajar dulu” itu saja terucap oleh kak Noy, sungguh mau diapakan aku ini. Apa ini adalah pacaran sehat? Oo…mungkin iya. Melka berbicara tanpa ujung pagi itu. Lalu dia bergegas mengambil handuk dan perlengkapan cewe. Di usaplah seluruh tubuhnya sambil berkaca. “Kak Noy, ini semua untuk kamu”. *** Kota Bandar Lampung tampak indah siang itu. Cahaya matahari melewati celah-celah dedaunan mengering. Melka duduk bersimpuh seorang diri. Sejak kecil hidupnya tak mau terganggu oleh keramaian. Bahkan dia tampak marah jika teman seusianya mendekat. Melka pun tak bergeming oleh keadaan disekitarnya. Dia hanya mengenduskan nafas. Huft..kota ini sudah mulai dipadati penghuni. Dia membuka seisi tas. Tampak sebuah diary berukuran sedang. Diary itu sarat akan coretan tak beraturan. Entah apa yang tertuang di buku berdebu itu. Sepertinya si-empu tak mempedulikannya. Dia meraih buku itu dan menuliskan beberapa bait dengan bolpoint warna merah jambu. Di akhir bait tergambar tanda yang tak jelas apa maknanya. Yang tampak sekali sebaris kalimat “ kak Noy..aku kangen” Tak lama kemudian sesosok pria bertubuh kecil menghampiri melka. “ Siang melka..” “Andre??? Knapa ndre ? Perbincangan mereka tampak asyik siang itu. Semuanya lepas mengalir tanpa scenario sebaitpun. Wajah melka kadang susut kadang mengembang. Tak jelas apa yang terjadi. Jika diamati dari kejauhan, mereka tak lain adalah romeo dan Juliet. Getir mereka tak sampai menutupi siang itu. *** Sore ini saat paling membuatku kalut. Bagaimana tidak. Kak Noy, cowo yang selama ini sudah terpatri dalam hatiku. Mengirim pesan singkat yang mampu membuatku putus asa. “Aku jadi ingin mati sajalah”. Kak Noy sungguh tidak adil. Semenjak pesan itu muncul dilayar handphoneku. Aku tak nafsu makan. “aku terpuruk terbelenggu nafsu, hatiku yang rapuh menjaga hatimu, hawa nafsu butakan hatiku, maafkaanlah aku1 Maafkan –Kangen Band ….mel aku bulan depan mau merried” Prakkkkkk…..handphone melka berantakan. Pukulan keras yang teramat sanggat. Hubungan jarak jauh-mereka- selama ini hampir berakhir begitu saja. Melka menahan tangis. Digenggamnya hitamnya cinta itu. Disambarnya Diary usang itu Cinta yang telah mereka rajut tak hanya terpisahkan oleh jarak. Namun hampir terpisahkan oleh keputusan masing-masing maglihainya. Tak ada kata yang tepat untuk memberi ucapan selamat. Sore itu awan menjadi kelabu. *** Di bandung. Udara terasa dingin karena butiran gerimis. Awanpun malas tuk berkelana mengitari kota berpenduduk padat itu. Dibalik Bus Bandung-Rajabasa tampak Noy sedang menenteng tas. Rona wajahnya begitu sempurna. Dikerumunin porter terminal, Ia tak gentar sedikitpun, Ia tetap memegang erat bidadari yang sejak tadi setia membuntutinya, gadis itu melenggok mengikuti tubuh Noy. Tak lama kemudian kaki mereka sedikit naik dibantu kenek bus. “ Lampung..Lampung…” Noy tersenyum kepada gadis itu, senyumnya sebuah tanda bahagia yang akan di sematkan buat kekasihnya. Noy merengkuh tubuh gadis itu, dan sedikit bisikan “ kau kedinginan ya sayang..” bisikan itu meluncur menyusuri jalanan yang kini berliku-liku. Mereka disambut oleh pagi. Embun masih menutupi dedaunan hingga sedikit menjerit karena tak bisa bernafas. Lalu langkah anggun mereka mendetak lantai pelabuhan Bekahueni Lampung . Kerinduan Noy tak bisa dibohongi. Sorot matanya focus pada titik yang sepertinya masih meninggalkan memori lama. Oow…wanita tua itu masih bersimpuh disini. Sungguh setia terhadap apa yang menjadi takdirnya. Dan tempat itu sudah menjadi tambatanya. Tetapi mengapa aku tak bisa seperti wanita tua itu. Aku terlanjur menggenggam hitamnya merah jambu ini. Noy melamun lama sekali, “ Ada apa kak?” gadis itu membangunkan lamunan Noy. “ oh.. tak Apa-apa..” Ia pun teringat pesan melka sebelum keberangkatan ke Bandung. Kak konsekuensi hidup adalah pilihan, kakak tetap pertahanin hubungan kita walau jarak tak sanggup mempertemukan kita. Melka Harap kakak menggengam pilihan itu. Kak, Melka rela melepas ingatan untuk Andre. Tapi kakak janji tak menghianati pilihan kakak. “ Iya ,Mel..Kakak Janji..” saat itu mereka mempertemukan jari kelingking mereka. Sepasang cincin di jari manis mereka saling menatap, mereka menjadi saksi perjanjian dua insan itu. Tetapi kini mereka tak mampu berteriak untuk membela perjanjian itu. Karena cincin, -itu- tak lagi melingkar di jari Noy. Semuanya berubah. Selepas dari pelabuhan. Noy bersalaman dengan orang tuanya dan kerabat dekat yang sejak malam menanti kehadiran mereka. Canda tawa membahana ruangan depan, sedang gadis itu yang akhir-akhir ini dikenal dengan nama Monica, membereskan barang bawaan. Tak lama kemudian Noy menghampiri dengan kecupan dikening. “sayang, ini rumah kamu jadi enjoy aja ya…” Monic membalas kecupan itu dengan senyuman hangat. Namun sebentar kemudian Ia mengernyitkan dahi, “ Kak, Foto siapa itu?” apa itu Melka yang pernah kakak ceritakan dulu? “ Mungkin….” Merekapun menjelajahi luasnya ranjang itu dengan gelak tawa. : kakak ternyata punya mantan ya? Ledek Monic. *** Dikamar Kost Melka, Andre berdiri tegak menanti Melka menyambutnya. Lalu Melka yang hanya memakai handuk itu bergegas menarik tuas pintu, didapatinya senyum Andre mewangikan pagi yang selalu kusam. Andre menyodorkan bungkusan kecil dengan ramah sekali. “ ih nggak usah formal-formal ndre..”anggep aja aku ini bukan customer” Melka memulai pembicaraan dengan sedikit menggoda. “Iya tapi ini kan masih jam kerja” “oow..kamu memang tak berubah ndre, selalu disiplin ya..” Melka tersenyum. Ada yang lain dimatanya, Ia melihat pelangi dimata Andre. Andre memang pekerja keras. Nggak seperti Noy, Penghianat Keras. Huft….” Andre meninggalkan ruangan sempit itu, dan bergegas menunggangi sepeda motor yang bertulis “FAST FOOD DELIVERY”. Punggung Andre pun membalas senyum Melka walau itu hanya beberapa detik,kemudian tersapu asap motor yang mengepul. Melka lekas ,mengenakan tanktop dan mini switter ala cewe masa kini. Bagian bawahya terbalut dengan rapi mini pants. Pagi Ia itu menyantap ayam goreng ala Andre. Ia terperanggah oleh secarik kertas di bagian samping kotak “ Mel, Nikmati Ayam Goreng ini seperti kau menikmati kehadiranku, Kehadiran dahulu dan Kehadiran Sekarang, I LOVE U melka, my sweet queen” Ia tak mampu menahan bahagia. Terdengar pelan dari corong radio di sampingnya. Tak kusangka dirimu hadir dihidupku, menyapaku dengan sentuhan kasihmu.. kusesali cerita yang kini terjadi menyapa di saat ku telah berdua Maafkan bila cintaku tak mungkin ku persembahkan seutuhnya…2 Cinta Dua Hati-Afgan *** Di jantung kota Bandar Lampung Nampak berderet pertokoan dan ada beberapa swalayan. Lalu lalang kendaran tak bias lepas dari citra kota itu. Mulai dari angkot yang ugal-ugalan di jalan, pencopet paling sopan sekalipun, namun udara begitu akur dengan lenggokan tubuh Melka, angina mengalir secara aerodinamis menerobos sela-sela tubuh melka. Dan lirikan para cowo-cowo kota kecil itu membuat keyakinan Melka memuncak. Disamping pinggangnya menggelantung tas kecil menganggunkan perjalanannya, semakin lama Ia berjalan, mentari semakin riuh mengikuti jejak langkahnya. dengan tergesa-gesa Ia memasuki mal tepat di tepi jalan Kartini. Dilihat Andre lalu lalang di deretan meja kecil, Ia menenteng tas kecil-kecil menuju sepeda motor yang di parkir tak jauh dari toko fast food itu. “ Ndre….., ini aku Melka..” “ Melka????” Andre berbalik arah menghampiri Melka. Senyum khasnya tak berubah. Disambutlah tangan Melka, dan bibirnya mendarat di pipi melka, Melka terperanjat tak bisa berbuat apa-apa. “ huft…ndre, ini tempat umum..” “ ya kalau aku sayang kamu kan nggak masalah mel”, orang disekelilingnya mendongakan wajah fokus pada satu titik, Andre dan Melka. Tak terkecuali sepasang kekasih yang sejak beberapa menit lalu menikmati ayam goreng Andre Fast Food, mereka mengangkat tubuh menghampiri Andre dan Melka. “ Noy…” suara melka langsung lirih. Raut wajahnya seakan menerjang badai apapun. Ia geram membabi buta. Di sambarnya muka Noy dengan jemari manisnya. Sambaran itu lembut tetapi cukup berarti buat Noy. Sepasang merpati yang beberapa waktu lalu kehilangan sepasang sayap. Kini sayap itu terbang diatas ubun-ubun mereka. Kejadian yang singkat itu di iringi jerit tangis Noy, Melka dan Monic. Sedang Andre berlari sambil menahan isak tangis. Ia meninggalkan toko dan dilema itu. *** Dua minggu setelah dilema itu menembus jantung hati mereka, *** Dimatanya kota Bandar Lampung sangat mempesona, awan mulai mengiringi perjalanan cinta Noy dan Melka, rintihan ombak menghapus ingatan mereka. Disamping mereka juga tersenyum sesosok gadis yang baru saja mencicipi panasnya kota ini. Monic menggandeng Noy dengan sangat sayang. Sedang Melka menyekap pinggang Noy, keduanya melepas pergolakan hati dengan seksama. Dan Andre melempari mereka. Pasir-pasir itu melumuri tubuh mereka. Dari kejauhan dilihatnya seorang nenek tua terenta-renta melewati hamparan pasir. Terkadang kaki nenek itu basah karena siraman ombak kecil. Mata Noy tak tahan menahan derai tangis, lalu Ia memapah nenek tua itu di iringi cubitan Melka dan Monik. Semua tertawa lepas kecuali Andre. “Tak bisa jari-jariku terima dua cincin dari hatimu dan dari hatimu,…….” 3 Dua Cincin- Hello Noy menarik Melka dan Monik menyusuri ombak itu. Sambil mengecup Melka dan Monik, bidadariku, Maafkan aku….. Mereka menelanjangi Noy sambil tersenyum kecut. ###

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s