Dunia Remaja · obrolan ringan · Sastra

Restorasi Kesadaran, 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta

“Menghadapi kemerdekaan tanpa cinta, kau takan mengerti segala lukaku, karena cinta telah sembunyikan pisaunya, bayangkan wajahmu adalah siksa, kesepian adalah ketakutan dan kelumpuhan, kau telah menjadi racun bagi darahku, apabila aku dalam kangen dan sepi, itulah berarti aku tunggu tanpa api..” Penutup sebuah mahakarya anak bangsa yang mengungkap hijab perjalanan cinta, dimana setiap manusia gelap akan masa depan, dengan kalimat yang menggelitik, Rosyid (Reza Rahardian) berusaha memupuk harapan dalam pertemuan hatinya, lihat aja nanti.

Maha karya yang menurut saya, mempunyai banyak pelajaran logis ini, merupakan paparan apik bagaimana kehidupan sosial sangatlah rumit, terutama tentang korelasi keagamaan dan aspek kehidupan penuh kesempurnaan. Memang kehidupan seperti sayap yang lebih enggan berdiam diri diatas ranting. 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta cukup memberi arti. Dari tema yang diangkat, kehebatan Rosyid adalah sebuah perang. Kecamukan kehidupan, kebulatan cinta dan perbedaan keyakinan.

“karena setiap orang berbeda pendapat dan juga keyakinan”, dalam film ini potongan-potongan kehidupan yang klise mampu membangkitkan kekuatan, terutama kepada orang-orang dihadapan kehidupan ini, atau yang pernah terlibat dalam kepelikan cinta dengan perbedaan. Saya rasa film ini mewakili sebagian anak bangsa, yang ter-hijab oleh perbedaan. Memang untuk menampilkan lakon yang sesungguhnya, sangatlah sulit. Namun problematika itu, sudah dirancang dengan kesungguhan.

Jika saya melihat sebagai Rosyid, bunuh dirilah yang pantas sebagai ending kehidupanya, tapi Rosyid sangat hebat dalam perang itu, perang segala aspek. Pada aspek sosialita, dia mampu merubah lingkungan sekitar, yang kaku, yang menurut dia tidak logis, menjadi sebuah tatanan yang selayaknya mengajari bangsa ini. Kecintaan orang tua untuk anaknya supaya berjalan sesuai dengan kebiasaan lingkungan, sebenarnya peci putih yang terus di doktrinkan kepada anaknya, adalah makna maha tinggi. Bahwa kehidupan harus selurus dengan kebiasaan, adat istiadat. Kehidupan tidak bisa egois, kaku dan menghargai kebuntungan. Kehidupan harus diputar, supaya apik. Sungguh.

Masih ada hal penting, bahwa kehidupan itu tak semata wayang, setiap jiwa mempunyai hak untuk berkomunikasi, dalam instrinsik jiwa itu, atau diluar kejiwaanya. Ini penting kita cermati, bahwa 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta yang penuh dengan penjabaran perbedaan, memberi pelajaran penting. Kehidupan beragama tak bisa ricuh. Memang terkadang kericuhan itu merupakan kepastian, apabila tak ada kesadaran. Terutama di Indonesia, pelajaran ini adalah penggambaran.

Dimulai dari pertemuan dua insan, selayaknya mereka mengadu keabsahan hati pada daerah penuh kepelikan, daerah dimana teoritis kepastian tanpa celah penawaran. Mereka mencoba menjungkir balikan masa depan. Segala upaya besar dilakoni tanpa kesepakatan,  perbedaan keyakinan dalam peribadatan, menjadi dasar utama mahakarya ini, sehingga perjalinan cinta pun semakin kandas, teoritis pertemuan atas kehendak tuhan, terbanting seketika. Film ini banyak menuai potongan-potongan realistis dan religius.

Kemudian, kecintaan pun tak hanya kepada inisiatif diri sendiri, pelajaran utama sangat nyata adalah keridhoan dan inisiatif orang tua tak bisa ditawar lagi, ketika seorang anak menginisiasi sebagai ketidakadilan kehidupan, maka sebenarnya sebuah ketidakadilan kepada diri sendiri, lihat sendiri, masa depan tidak ada yang tahu. Sebenarnya kebersamaan Rosyid dan Delia (Laura Basuki) masih mampu untuk dipertahankan, namun dosalah yang menjawab mereka, semua terluka, semua membohongi diri sendiri terutama kepada tuhan, mereka tidak mau.

Kelaziman kehidupan mengembalikan mereka pada titik kesadaran, titik yang menghubungkan aspek-aspek kepada sebuah kesimpulan logis, Rosyid sangat menghargai tuhanya-, begitupun Delia. Inilah yang saya sebut restorasi kesadaran, mereka mengajak kepada semua anak bangsa untuk bercermin kepada keyakinan masing-masing, selama belum ada kesepakatan, jangan berharap pertemuan itu menjadi titik akhir, hanya surgalah yang mampu mempertemukanya, tapi ini sangat naif, bagaimana akan dipertemukan jika keyakinan pun berbeda, mungkin tempatnya pun berbeda? Lihat nanti.

Disisi kepelikan itu, mereka berani mengambil keakhiran besar, kesadaran dirontokan tanpa menimbulkan asap, karena memang tidak ada api, menurut saya ini merupakan pencapaian Rosyid maupun Delia membalikan kebohongan dirinya, keakrapan pun tak pelak tertanam lalu bertunas. Mereka masih tersenyum dihadapan dosa-dosa yang menurut mereka juga tak layak disandang. Mereka sangat patuh kepada Tuhan, dan rules kehidupan, yang bertuhan juga.

Dengan penggambaran yang tidak menggurui sama sekali, karya ini merupakan sebuah penusukan kesadaran dari dalam dan tidak memaksakan amanat. Ketergugahan jiwa penikmatnya, merupakan hal alamiah. Film dengan genre seperti ini harus dikembangkan dan menjadi referensi film-film selanjutnya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s