Dunia Remaja · Sastra

MELOWFIKSI “Larut”

Secercah cahaya rembulan melambaikan kepak sinarnya dari balik jendela. Hampir pukul 23.00 Aku tidak bisa memejamkan mata. Dihadapanku terburai kelopak sembab menanti pengakhiran malam. Aku masih termangu disamping ranjang berselimut putih. Sesekali kulempar pandangan kearah Toni. Hmm..sambil melepas nafas kusentuh jemari tanganya. Jemari yang dahulu sering mengusap peluh dan air mataku. Ada kala menyodorkan sebungkus pop corn ketika duduk berdua di taman kampus. Lekatan pesan sangat ketara dalam dingin kerutan jemari itu . Aku terus memahami untuk kesekian kali. Tidak berapa lama Toni bergeming dari tidurnya. Lekatan jemarinya semakin kuat menyentuh jemariku, sesekali meluruh keatas selimut putih. Malam sudah larut dengan kegalauan.
“Toni, dimana peluh yang engkau usap ketika kita menikmati seruit, akan membasahi dalam kelam malam ini.” Aku meneteskan air mata untuk yang kesekian kalinya. Ku jelajahi aura wajah Toni. Segalanya penuh kemesraan yang sudah kudapati hampir 3 tahun. Kini Toni tergolek di salah satu pojok Rumah Sakit Abdul Moloek. Pojok dimana Aku melecutkan asa untuknya. Ku usap telapak tangan dengan segala perasaan suka cita. Aku tak mau Toni merasakan kegalauanku. Biarlah kilauan senyuman rembulan mendongaku dari keterpurukan ini. Berharap.
Kelarutan merujuku untuk memejamkan mata. Aku menolak dengan keras. Aku tidak ingin kehilangan sedetik dingin kerutan telapak tanganmu. Karena bagaimanapun itu sangat berarti bagiku, jemari yang mengusap air mataku ketika bertengkar denga teman kos. Huh..harus ku jalani meski derai air mata menguras fikiranku. Aku tak punya uang lagi untuk pindah kamar kos. Toni mengajariku untuk melesatkan kegalauan. Mencabik-cabik lalu membungkusnya dengan simpul senyum, aku terpesona kala itu. Kuraih jemari penuh air mata, ku usapkan dipipinya. Toni hanya meringis saja.
Dirimu Membekas dalam peliknya suasana hatiku,
Saat dekap tanganmu kusisihkan untuk kesekian kali,
Ku lepas dari ketakutan, kau biarkanku bermain dalam angan,
Cukup ku terlelap, menikmati mimpi yang penuh kegalauan,
Aku tak mau kau tersiksa, dalam pesakitan, seperti aku.
Toni kembali beringsut dari tidur lelapnya, Ku nikmati lekukan bibir indah dan hidung mancungnya. Sungguh bagaikan diaroma terindah didunia ini. Lebih indah dari biru langit dan keheningan malam. Semua bersimpuh pada lekukan paling merona dari apapun yang pernah kucercap. Pijaran api, kilatan petir dan bauran mentari setengah siang. Toni lebih dari kuda putih yang meringkik ketika Aku membutuhkan pacuan hidup.
Secercah cahaya bintang pun melambaikan kepak sinarnya dari celah-celah dedaunan. Sudah pukul 01.00 Aku tidak bisa melepaskan sentuhan jemari itu. Dihadapanku terburai garis tangan menanti kebaikan Tuhan. Aku terus berdoa untuk kesembuhan Toni, kekasih terbaik yang pernah ada. Pacar pertama dan akan menjadi penutup dari kehidupanku. Aku ingin larut dalam satu cinta sampai nafas ini beradu dengan tarikan malaikat. Met sembuh Toni. Kukecup bibir manis Toni.
Harmoni Cinta,
Walau sendu membayangi malam ini,
Aku tetap suka cita untukmu,
Kekasih pertama dan Terakhir,
Kau penutup kehidupanku,
Kau peluruh hati ini,
Sampai tersimpuh lemas di pangkuan cintamu,
Dalam pelukan malam-malam yang kelam,
Aku terus cemas.

Note: Seruit : Seruit adalah makanan khas provinsi Lampung, Indonesia, yaitu masakan ikan yang digoreng atau dibakar dicampur sambel terasi, tempoyak (olahan durian) atau mangga.
Rumah Sakit Abdul Moloek adalah Rumah Sakit Provinsi Lampung dan menjadi kebanggaan masyarakat Prov. Lampung.

 

FTS ini menjadi 4 Besar Event Mellowfiksi UNTUK SAHABAT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s